Rabu, 06 Februari 2019

S u r e l 1

Jangan Menipu Allah

Pict by @malikinazarudin

          Pagi ini aku terbangun pukul 3 pagi nai, dan segera mungkin ku cari telfon genggamku yang tanpa sadar masih terhubung dengan kabel headset dan berada tepat membelakangi punggungku, setelah ku cek masih tak ada balasan dari pesan yg ku kirim pada ibu tadi malam, pikiran ke dua yang terlintas adalah bagaimana pun aku harus membangunkan mu di waktu yang terbaik untuk memohon segala ampun dan doa, ntah tanpa sadar seperti  naluriah untuk tidak melenyapkan kesempatan sepertiga malam menyelesaikan tugasnya. Harapku semoga disana kau bangun dan menemaniNya sebelum subuh menjemput. Hari ini pula ku sambung subuh dengan dzikir pagi, ntah mengapa rasanya dzikir kali ini benar - benar berbeda, seperti tergetar hati tapi tak tahu karena apa, sangking tak inginnya diketahui teman-teman asrama yang melingkar pada dzikir ini, aku membungkuk kan kepalaku dan sesekali mengusapkan mataku pada bantal yang ku papah, iya nai aku nangis. Dan tepat Dhuha ini aku melanjutkan novel cerita Fahri dan Aisha sembari mendengarkan ceramah pendek dari salah satu ustadz Bandung yang juga ku kagumi sampai seketika aku berada membaca subab berjudul "Jangan Menipu Allah" , terdiam aku Nai, segala pikir dan curah berakhir padamu, apa aku menipu Allah? Dari segala kesibukan, dari segala kebaikan dan kebermanfaatan, tapi tidak untuknya, apakah semua ini hanya untuk makhluk sederhana yang kau cipta Rabb? Astaghfirullah, maafkan aku Nai yang selama ini meminjam namamu untuk kusebut di akhir doa yang terpanjat, dan biar Dhuha menyadarkan agar kita bisa menerima dan merelakan semu yang merubah hidup kita, dan maaf pula malam tadi aku sudah tahu siapa yang mendekatimu dan siapa yang kau kagumi oh iya aku juga ingin berbagi isi pesan dari ustadz Bandung tadi, 4 hal sifat yang bisa menghindarkan kita dari api neraka adalah Hayyin, Layyin, Qarib dan Sahin, rendah diri, lemah lembut, ramah dan memudahkan dan semua itu ketemukan padamu, semoga kamu bisa mengistiqomahkan.


Surabaya, 04 Februari 2019


Sabtu, 22 September 2018

A D I L



Kadang
Aku merasa hidup ini tidak adil
Tentang kamu dengan pengembaraanmu
dan tentang sabarku 
merindukan satu tetes keajaiban mimpi


                                       Mahameru, 2018

Minggu, 12 Agustus 2018

M E N T A R I  D A N  J A N J I

                                                          Ranukumbolo

" Mentari tak pernah sekalipun ingkar pada janji, ia selalu hadir untuk memberi harapan di pagi hari"
- Paminto -

Selamat pagi semesta, apa kau masih disana dengan rasa yang sama dan untuk orang yang sama? jika iya, kau tak lebih dari kayu yang rela membakar diri hanya demi kehangatan insan yang dicintai. Lagi-lagi tentang cinta? satu kebodohan yang diselimuti keeleganan pengorbanan, ahh semesta... sungguh kau guguran-guguran kesedihan.

Duhai semesta yang agung, lihatlah matahari, cahaya sucinya tak pernah ternoda oleh kebohongan cinta, karena sejatinya cinta suci itu bersemayam pada hati yang sedikitpun tak pernah mengharapkan cinta. Apa kau tahu apa yang indah dari mentari? iya, janjinya yang tak pernah ingkar untuk datang dari timur, walau malam tiba ia tetap rela bersinar meski yang disanjung adalah bulan. Ialah semurni-murninya pengorbanan, dan yang pasti bukan tentang pengorbanan kesia-siaan.

Pagi ini ia membawa harapan baru, bagi para pujangga yang hancur karena cinta, sorot sinarnya seakan merasuk dalam darah dan membuat kepingan-kepingan merah itu bersinar. Saatnya menjadi barat yang berpaling jauh dari timur, berpaling sejauh-jauhnya dari cinta yang telah menjadikanmu serpihan asa.


                                      tengah jalan, 13 Agustus 2018


Sabtu, 11 Agustus 2018

T E N T A N G  H I L A N G

                                                          Paralayang

"Demikianlah perempuan, dia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya, walaupun kecil, dan dia lupa kekejamannya sendiri kepada orang lain walaupun bagaimana besarnya." -zainuddin-

Tuhan menciptakan cinta dengan ornamen - ornamen indahnya layaknya surga yang tergambarkan, bentang rumput hijau, tenang sungai susu yang mengalir dan sepoi angin yang menyejukkan. Tuhan juga menciptakan kehilangan layaknya bumi dan kehidupannya, lebih banyak pedih yang dirasa, kefanaan yang hampa, terbentuk dari sendi-sendi pengharapan yang tak kunjung ternyatakan.

Cinta itu menghidupkan namun ia juga mematikan, mematikan hati hati yang hancur karena pengharapan tulusnya, cinta itu sejatinya melemahkan yang menguatkan itu kehilangannya, cinta seperti bunga cantik yang terpatahkan oleh tangan gadis, setelah ia cium semerbak harumnya tak ada lagi yang dilakukannya selain menghempaskan kuntum itu ke bumi, hilang sudah pengharapan untuk kembali elok, namun kehilangan menjelma menjadi biji yang terurai, memiliki nyawa untuk menghidupkan meski masih membutuhkan waktu dan hujan, ia yakin akan semai menjadi kuntum kembali setidaknya dengan pengharapan yang tak pernah padam.


            

                                   tempat terteduh, 12 Agustus 2018

S u r e l 1

Jangan Menipu Allah Pict by @malikinazarudin           Pagi ini aku terbangun pukul 3 pagi nai, dan segera mungkin ku cari telfo...